You must Login to access Andal Forum. Registration is Free.
636 views
Open Discussion

HARBOLNAS VS UPAH SUNDULAN

HARBOLNAS Hari Belanja Online Nasional, betapa dahsyatnya belanja online dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini, sampai-sampai ada penetapan hari khusus. Bahkan tadi malam salah satu vendor belanja online mengadakan acara khusus di salah satu televisi swasta nasional dengan kemasan acara yang tak kalah meriahnya dengan acara penganugerahan piala citra utk para insan perfilman. Evoria gegap gempita...

Disisi lain sekarang ini tidak sedikit para Manager HRD atau Manager Keuangan juga lagi gegap gempita mempersiapkan UPAH SUNDULAN bagi seluruh karyawan di perusahaannya. Kontradiktifkah? atau linierkah?

Bahkan disisi yang lain, aktivis Pekerja atau Serikat Pekerja/Serikat Buruh juga sedang gegap gempita mempersiapkan aksi dan upaya untuk “PENOLAKAN” upah murah melalui penolakan besaran Upah Minimum, kontradiktifkah? atau linierkah?

Saya tidak akan bahas HARBOLNAS atau aksi Serikat Pekerja/Serikat Buruh, tapi akan kupas sedikit tentang UPAH SUNDULAN

  • Apakah Upah Sundulan itu?
  • Darimana munculnya Upah Sundulan?
  • Apa keuntungan dan kerugian Upah Sundulan?
  • Bagaimana melakukan Upah Sundulan?

 

Upah sundulan adalah salah satu metode pemberian kenaikan upah karyawan. Dimana dalam pemberian kenaikan upah  tersebut menggunakan suatu “rumus tertentu” sehingga didapatkan suatu kenaikan upah linier dan terstruktur dari upah terendah sampai dengan upah tertinggi, dengan berpedoman pada budget atau anggaran kenaikan perusahaan.

Upah sundulan diinisiasi oleh praktisi ketenagakerjaan yang prihatin dengan kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan yang upah pekerjanya masih banyak berbasis pada upah minimum. Dengan demikian pada saat terjadi kenaikan upah minimum, maka mau tidak mau perusahaan harus menaikan upah karyawan yang berbasis upah minimum tadi, sedangkan budget atau anggaran perusahaan terbatas. Maka dari kondisi tersebut untuk perusahaan yang jumlah karyawan nya dengan upah masih berbasis upah minimum banyak, budget atau anggaran kenaikan akan banyak terpakai untuk pembenahan kenaikan upah minimum. Padahal disisi lain terdapat karyawan yang upahnya sudah melewati upah minimum tentunya juga perlu adanya peninjauan upahnya.

Atas kondisi diatas, praktisi ketenagakerjaan mengupayakan suatu konsep kenaikan yang linier dan terstruktur dengan metode tertentu, yang pada dasar philosofinya adalah “yang upah nya sudah melewati upah minimum, maka akan mendapatkan kenaikan yang lebih kecil, dibandingkan dengan karyawan yang upahnya masih minimum”

Menengok pada konsep diatas, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa konsep upah sundulan memiliki kemudahan dalam perhitunganya, karena tinggal cari besaran kenaikan untuk upah minimum, kemudian ditetapkan besaran kenaikan untuk upah tertinggi, kemudian dibikin rumusnya untuk besaran kenaikan upah lainya, maka besaran kenaikan untuk seluruh upah sudah didapat.

Namun demikian, seperti kita ketahui bahwa dalam pemberian kenaikan upah ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan, seperti penghargaan kinerja dan keadilan, guna memotivasi kinerja karyawan.  Nah bagaimana konsep upah sundulan dapat mengakomodir kebutuhan ini?

Konsep upah sundulan dapat dilakukan dalam bentuk nominal rupiah, juga dapat dalam bentuk besaran prosentase.

Akankah Anda pakai konsep upah sundulan untuk kenaikan upah di Perusahaan Anda?

Dwi Saryanto Dwi Saryanto
Published 12/12/2017 2:13:04 AM
  • Pengupahan
Add Comment

Last Activity 12/12/2017 2:13:41 AM


Author Forum

"Konsultan dan Trainer pengembangan SDM, organisasi dan kepemimpinan di beberapa lembaga yang bergerak di bidang konsultasi dan pelatihan. Beliau memiliki latar belakang pendidikan di bidang Hukum. Kompetensi yang dimiliki yaitu Desain & Pengembangan Organisasi, Analisa Jabatan & Competency Modeling, Perencanaan & Rekrutmen SDM, Sistem Manajemen Kinerja & Kompensasi, Hubungan Industrial, Struktur & Skala Upah dan lainnya. Beliau juga terlibat di banyak kegiatan training, consulting dan coaching di berbagai perusahaan ternama".

 
 

 

 

 

Dwi Saryanto

Dwi SaryantoKonsultan dan Trainer Pengembangan SDM