rss

Payroll Software | Artikel Pengembangan Diri

Sharing pengalaman dalam perjalanannya untuk mengembangkan Andal Software, dari segi Leadership, People Development, dan pola berpikir untuk mengembangkan bisnis.

Melepas Beban Untuk Naik Lebih Tinggi

Melepas Beban Untuk Naik Lebih Tinggi

Kalau kita mendaki gunung tentunya harus membawa perlengkapan secukupnya, kalau terlalu berlebih maka beban yang harus dibawa menjadi berat, dan menambah beban untuk mendaki. Sebaliknya kalau kurang, maka persediaan makanan bisa tidak cukup dan akan mempengaruhi juga pada saat mendaki. Sehingga bisa disimpulkan untuk mencapai ke puncak gunung perlu persiapan yang sangat matang, terutama beban yang dibawa, beban yang dibawa hanya beban yang diperlukan saja, kalau masih terlalu banyak harus direview lagi apakah ada lagi beban yang dapat dikurangi?

Kehidupan kita dapat dianalogikan dengan mendaki gunung, setiap orang pasti ingin kehidupannya lebih baik lagi, pertanyaannya mengapa ada yang mencapai puncak, dan yang mencapai di tengah dan juga tidak bisa naik? Apa sebetulnya beban yang ada didalam hidup kita, banyak orang tidak merasakan bahwa itu beban, karena ya memang sudah terbiasa. Beban yang paling berat sebenarnya kemelekatan terhadap apa saja termasuk didalamnya adalah mobil, handphone, jabatan, status sosial, dan gengsi.

Pada suatu hari seorang Bapak yang mempunyai mobil kesayangan dan mobil tersebut terserempet sehingga baret. Bapak ini sedih sekali karena mobil kesayangannya lecet dalam dan panjang, pikirannya dipenuhi rasa penyesalan, rasa sayang, dan rasa-rasa yang lainnya, yang akan mempengaruhi mengerjakan tugas-tugasnya. Bisa jadi tugas yang dikerjakan tidak bisa mendapatkan yang maksimal gara-gara mobilnya baret. Padahal antara mobil baret dan hasil pekerjaan tidak ada hubungannya, tetapi dapat mempengaruhi hasil.

Kesombongan adalah salah satu beban yang paling berat didalam menghadapi kehidupan, seorang manager yang sangat sombong merasa dirinya paling hebat diperusahaannya. Tiba tiba dia mendapatkan suatu ide yang menurut dia adalah yang paling bagus dan kalau bisa diterapkan di kantornya akan menghasilkan suatu kemajuan yang pesat. Dengan bangga sang manager menghadap ke atasannya seorang wakil direktur (Vice President), kemudian dia mulai menceritakan gagasannya kepada sang VP, setelah sang VP mendengarkan dengan seksama, kemudian dia menanyakan beberapa pertanyaan tentang ide tersebut. Seorang VP sebelum memutuskan sesuatu harus bisa mendengar dan mengerti maksud dari suatu usulan. Setelah beberapa pertanyaan dilontarkan si VP mengatakan bahwa ide tersebut belum bisa dijalankan. Merasa idenya ditolak maka si manager sangat kesal dengan VP nya, dan akibatnya pekerjaaan yang seharusnya dilakukan, dia tidak dapat melakukannya dengan baik. Karena dia berpikir bahwa si VP tidak sejalan atau sepaham dengan si Manager.

Sebetulnya si Manager tidak mengetahui persis kenapa si VP menolak gagasannya, dan dia tidak mau menanyakan lebih detail, karena sudah terburu dibawa emosi kemarahan, sehingga tidak dapat berpikir jernih lagi. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Dan mungkin sering terjadi didalam organisasi. Masalahnya sebenarnya terletak pada si manager, yang sok hebat. Si VP dalam mengambil keputusan tidak bisa hanya berdasarkan untuk kebaikan satu departemen saja. Melainkan seorang VP harus memikirkan divisi di bawahnya bahkan perusahaannya. Sedangkan si Manager hanya memikirkan di departemennya saja, sudut pandang yang berbeda ini yang menyebabkan ketidakpahaman. Seorang manager yang baik, dan tidak sombong, dia akan berdiskusi kenapa usulannya ditolak, bukan untuk mempertahankan bahwa usulannya harus dilakukan, melainkan untuk mencari jalan terbaik untuk mengubah apa yang diusulkan. Orang yang sombong akan sulit sekali menerima pendapat orang lain, sehingga untuk diskusi dan menghasilkan ide-ide baru yang kreatif juga sulit.

Pelajaran yang saya dapatkan
Beban yang sulit untuk dilepaskan biasanya kesombongan dan kemelekatan, kemelekatan ini bisa juga jabatan, posisi, harga diri kemlekatan harga diri bisa menjadi sombong. Seorang pemimpin harus mempunyai sikap rendah hati, karena seorang pemimpin yang berhasil dia akan merelakan bahwa yang dibimbingnya akan menjadi orang yang lebih hebat dari dirinya. Pada saat seorang pemimpin yang mempunyai kerendahan hati, pada saat membantu bawahannya untuk bertumbuh dia tidak lagi melihat sebagai pesaing, tetapi tujuannya hanya membantu bawahannya agar bisa lebih berhasil lagi.

Seorang pemimpin yang mempunyai kesombongan yang tinggi, anak buahnya tidak akan berkembang, sehingga dia akan merasa capai, karena semua dia harus kerjakan sendiri. Sama halnya dengan kemelekatan manager yang mempunyai kemelekatan tinggi terhadap posisinya, dia tidak mau mengajarkan staffnya, dia sangat takut kalau jabatannya digantikan dengan anak buahnya, kalau anak buahnya lebih pandai. Atau kalau seorang pendiri, dia takut sekali kalau idenya dicuri oleh bawahannya kalau dia memberi tahu semua rencananya, maka seorang pendiri yang seperti ini akan mengerjakan semuanya sendiri, akhirnya memerlukan waktu yang lama, dan bisa jadi sudah ada orang lain yang melakukan hal yang sama.

penulis :
INDRA SOSRODJOJO
DIREKTUR ANDAL SOFTWARE

 
 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.


Most Popular 3 Months Latest

28 Mar 2019 | 1957