rss

Artikel Kiat & Tips

Lebih dari 10 tahun kami hanya fokus membuat produk payroll, banyak pengalaman yang kami dapatkan. Dari pengalaman tersebut, kami yakin dapat membantu dan memberikan solusi untuk permasalahan perhitungan penggajian di perusahaan Anda.

Mengapa Sulit Menghitung PPh21?

Mengapa Sulit Menghitung PPh21?

Dasar perhitungan PPh21 di Indonesia adalah penghasilan selama setahun, sedangkan pembayaran dilakukan setiap bulan, berarti setiap bulan harus memperkirakan atau memprediksi berapa penghasilan selama setahun yang akan diterima, kemudian dihitung pajak selama setahun, dibagi 12 (dua belas) yang akan mendapatkan PPh21 selama sebulan yang harus dibayar.

Kesulitan utama sebenarnya bukan pada cara menghitung pajaknya, tetapi memperkirakan perhitungan setahun, atau yang lebih dikenal sebagai Metode Penyetahunan Pajak. Bagaimana kita mengetahui bonus yang akan diterima? Berapa kenaikan gaji yang akan diterima pada tahun berjalan? Berapa THR yang akan diterima.

Cara untuk menghitung Penyetahunan Pajak ini ada beberapa cara. seperti:
Forecast, dimana penghasilan yang belum diterima dianggap sama dengan penghasilan pada bulan terakhir gajian, dikalikan dengan jumlah sisa bulan hingga akhir tahun, ditambahkan dengan jumlah gaji yang telah diterima.
Ilustrasi (Penyetahunan Penghasilan bulan Maret):
{Jumlah Penghasilan Januari sd Februari} + {Jumlah Penghasilan Maret x 10}

Moving Average, jumlah gaji yang telah diterima dibagi dengan jumlah bulan yang telah menerima gaji, dianggap sebagai rata-rata penerimaan setiap bulan, kemudian dikali dengan 12 (duabelas).

Ilustrasi (Penyetahunan Penghasilan bulan Maret):
{{ Jumlah Penghasilan Januari sd Maret} : 3} x 12
Tentu saja perbedaan cara penyetahunan ini akan berdampak pada perbedaan hasil perhitungan PPh21, disinilah sebenarnya letak kesulitan perhitungan PPh21
Peraturan setelah Juli 2015
Pada bulan Juli tahun 2015 lalu, terdapat perubahan peraturan perhitungan PPh21, dimana penyetahunan dilakukan setiap bulan berjalan. Untuk menghitung PPh21 bulan berjalan tidak lagi bergantung pada bulan sebelumnya atau pada bulan yang akan datang, hanya pada bulan Desember yang perhitungannya berbeda.

Karena pada saat penggajian bulan Desember, seluruh penghasilan selama satu tahun sudah tahu, jadi tidak perlu dikalikan dengan 12 (duabelas), tetapi menjumlahkan semua pendapatan yang diterima selama satu tahun termasuk pendapatan bulan Desember. Setelah dihitung PPh21 akan didapatkan PPh 21 selama satu tahun. Besarnya PPh21 pada bulan Desember adalah PPh21 selama satu tahun dikurangi dengan PPh21 yang telah dibayarkan selama bulan Januari hingga November.
Perhitungan PPh21 untuk bulan Januari – November:

Perhitungan PPh21 di bulan Desember :

Perbedaan Cara Perhitungan Pajak
Kemudahan perhitungan PPh21 ini, jika semua karyawan bekerja penuh dari bulan Januari hingga bulan Desember tahun berjalan. Ada beberapa perhitungan pajak yang berbeda, perbedaan cara perhitungan ini dapat dikelompokan menjadi :
  1. Perhitungan PPh Pasal 21 untuk Pegawai Tetap dan Penerima Pensiun Berkala.
    1. PPh Pasal 21 dengan pembayaran gaji bulanan.
    2. PPh Pasal 21 dengan pembayaran gaji mingguan.
    3. PPh Pasal 21 atas pembayaran rapel.
    4. PPh Pasal 21 atas pembayaran penghasilan yang bersifat irreguler.
    5. PPh Pasal 21 stas penghasilan pegawai yang dipindahtugaskan dalam tahun berjalan.
      1. Pegawai baru mulai bekerja pada tahun berjalan.
        1. Perhitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan pegawai yang kewajiban pajak subjektifnya sebagai Subjek Pajak Dalam Negeri, sudah ada sejak awal tahun kalendar, tetapi baru bekerja pada pertengahan tahun.
        2. Perhitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan pegawai yang kewajiban pajak subjektifnya sebagai Subjek Pajak Dalam Negeri, dimulai setelah permulaan tahun pajak, dan mulai bekerja dalam tahun berjalan.
      2. Pegawai berhenti bekerja pada tahun berjalan.
        1. Pegawai yang masih memiliki kewajiban Pajak Subjektif berhenti bekerja pada tahun berjalan.
        2. Pegawai berhenti bekerja pada tahun berjalan dan sekaligus kehilangan kewajiban Pajak Subjektifnya.
    6. PPh Pasal 21 atas penghasilan pegawai yang berhenti/mulai bekerja dalam tahun berjalan.
    7. PPh Pasal 21 atas penghasilan yang sebagian atau seluruhnya diperoleh dalam mata uang asing.
    8. PPh Pasal 21 seluruh atau sebagian ditanggung oleh pemberi kerja.
    9. PPh Pasal 21 terhadap pegawai tetap yang menerima tunjangan pajak.
    10. PPh Pasal 21 atas penerimaan dalam bentuk Natura dan Kenikmatan lainnya.
    11. PPh Pasal 21 bagi pegawai tetap yang baru memiliki NPWP pada tahun berjalan.
  2. Perhitungan PPh Pasal 21 untuk Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas.
    1. PPh Pasal 21 dengan Upah Harian.
    2. PPh Pasal 21 dengan Upah Satuan.
    3. PPh Pasal 21 dengan Upah Borongan.
    4. PPh Pasal 21 dengan Upah Harian/Satuan/Borongan, yang diterima secara bulanan.


    1. Perhitungan PPh Pasal 21 untuk Anggota Dewan Pengawas atau Dewan Komisaris.
      1. PPh Pasal 21 atas pembayaran penghasilan kepada mantan pegawai.
      2. PPh Pasal 21 atas pembayaran penghasilan kepada honorarium komisaris.
      3. PPh Pasal 21 atas penarikan dana pensiun oleh peserta program pensiun yang masih berstatus sebagai pegawai.
    2. Perhitungan PPh Pasal 21 untuk Bukan Pegawai
      1. Yang menerima penghasilan yang bersifat kesinambungan.
      2. Yang menerima penghasilan yang tidak bersifat kesinambungan.
    3. Perhitungan PPh Pasal 21 untuk Peserta Kegiatan.
    4. Perhitungan PPh Pasal 26 untuk Wajib Pajak Luar Negeri.
  3. Siapa yang membayar PPh21?
    Menurut peraturan penerima penghasilan yang harus membayar pajak, sehingga perhitungannya seperti pada tabel diatas. Pengurang yang besarnya 137,887.5.- berasal dari Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua, yang besarnya 1 % dan 2% dari gaji pokok.
    Namun ada perusahaan yang membayarkan pajak untuk karyawannya. Bila perusahaan yang membayarkan pajaknya karyawan, maka terdapat 2 (dua) cara perhitungan:

    Cara pertamadibayarkan sesuai dengan jumlah pajak yang seharusnya karyawan bayar, atau gajinya diberikan tunjangan pajak yang besarnya sama dengan pajak yang seharusnya dibayar. Cara ini dikenal sebagai Metode Gross-Up (PPh21 ditunjang oleh pemberi kerja).
    Cara kedua ini sama seperti karyawan yang membayar pajak, hanya saja besaran pajak tidak dipotong dari gaji karyawan. karena pajak tersebut ditanggung oleh perusahaan. Cara ini dikenal sebagai PPh21 ditanggung oleh pemberi kerja.

    Bagi karyawan, kedua cara ini hasilnya sama saja, yang berbeda adalah perlakuan perhitungan pajak untuk perusahaan (Pajak Badan). Perbedaan perhitungan untuk perusahaan ini tidak dibahas disini karena sudah diluar topik bahasan.
    Cara menghitung PPh21 dilihat dari siapa yang membayar, ada 3 (tiga) macam cara yang biasa disebut :
    1. Karyawan menerima gaji neto.
      1. PPh21 ditunjang oleh pemberi kerja.
      2. PPh21 ditanggung oleh pemberi kerja.
    2. Karyawan menerima gaji bruto.
      1. PPh21 dipotong ke karyawan.
    Yang membuat rumit sebenarnya perlakuan perhitungan pajak yang berbeda, tergantung dari komponen gaji yang akan diterima. Contohnya karyawan membayar pajak PPh21 untuk semua penghasilan rutin bulanan, tetapi bila terdapat Bonus atau THR, maka pajaknya akan ditunjang oleh perusahaan (perusahaan pemberikan tunjangan pajak). Sehingga ada 2 (dua) macam perhitungan PPh21 pada saat karyawan menerima Gaji Bulanan dan THR/Bonus.

    Perhitungan PPh21 dapat dilakukan secara otomatis
    Dengan cara menghitung pajak yang sistematis dan pasti, maka dapat dilakukan perhitungan secara otomatis. Pekerjaan suatu program sebenarnya adalah membuat suatu perhitungan dapat dilakukan secara sistematis, maka semuanya akan dapat dilakukan oleh program komputer. Walaupun setiap karyawan terdapat 2 (dua) macam perhitungan pada saat menerima Gaji bulanan dan THR/Bonus, seperti kasus diatas, maka program komputer dapat melakukan perhitungan dengan benar. Bagaimana Memilih Software Payroll ? Sebelum menentukan software payroll seperti apa yang akan digunakan, sebaiknya software tersebut diuji terlebih dahulu perhitungan pajaknya.

    Pada saat memberikan kasus perhitungan pajak hal-hal yang perlu diperhatikan :
    1. Gaji pokok yang nilainya mendekati perpindahan tarif pajak 50,000,000.- ambil misalnya gaji karyawan perbulan 4,000,000.-
    2. Pada bulan tertentu diberikan THR atau bonus sehingga total pertahun lebih dari 50,000,000.- sehingga pada bulan itu masuk ke dalam tarif pajak diatas 50,000,000.-
    3. Kemudian lihat di akhir tahun, apakah pajak yang dihitung benar?
    Pada saat menguji software perlu dilakukan simulasi perhitungan pajak selama setahun.

 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.